TIPS DAN TRIK BETERNAK CUCAKRAWA

Sebenarnya banyak kicaumania yang ingin beternak burung cucakrawa, bahkan sebagian sudah pernah melakukannya meski akhirnya kandas di tengah jalan. Semua ini berawal dari minimnya penguasaan dasar-dasar beternak burung, yang terkadang dibarengi dengan ketidaksabaran dan ketidaktelatenan dalam mengelola penangkaran burung.

Apalagi beternak cucakrawa lebih sulit daripada  jenis burung kicauan lainnya. Cucakrawa dikenal memiliki sifat yang sangat sensitif. Ketika menjumpai perubahan mendadak pada lingkungan di sekitar kandang, burung mudah stres, terlebih burung indukan yang sangat memutuhkan suasana tenang dan nyaman.

Untuk meminimalisasi potensi kegagalan dalam beternak cucakrawa, GRD Bird Farm membuat panduan singkat berupa tips dan trik beternak burung cucakrawa. Semua ini diolah berdasarkan pengalaman GRD Bird Farm selama ini, juga merangkum berbagai keluhan dari para peternak yang pernah disampaikan kepada GRD Bird Farm.

1. Musim penghujan

Permasalahan:

Anakan burung cucakrawa yang menetas pada musim penghujan biasanya kerap bermasalah. Faktor utamanya adalah anakan tidak mampu menahan hawa dingin, dan tubuh induknya tidak mampu memberikan kehangatan yang diperlukan anakan saat kedinginan. Anakan cucakrawa memang rentan mati  jika terlalu lama menahan hawa dingin.

Solusi:

Disarankan melakukan pemanenan anakan lebih dini. Jika dalam kondisi normal panen anakan dilakukan saat berumur 5-9 hari, kali ini perlu dipercepat pada umur 2-3 hari.

2. Musim kemarau

Permasalahan:

Apa yang perlu dilakukan peternak cucakrawa ketika menghadapi musim kemarau, khususnya saat kemarau panjang?

Solusi:

Musim kemarau di sejumlah daerah di Indonesia tidak datang secara bersamaan. Di Kalimantan Timur, misalnya, puncak kemarau biasanya terjadi sejak Agustus hingga November.

Pada saat seperti itu, Anda perlu lebih sering menyiram tanah di sekitar lingkungan kandang, untuk mencegah debu-debu beterbangan yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan pada burung cucakrawa.

Selain itu, masa-masa tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengistirahatkan induk jantan. GRD Bird Farm menerapkan hal ini setiap musim kemarau, di mana induk-induk jantan akan diistirahatkan secara bergantian di sangkar soliter. Setiap induk jantan diberi kesempatan beristirahat selama 3 minggu.

3. Indukan nakal: matuk telur, ogah mengeram, buang piyik

Permasalahan:

Banyak peternak cucakrawa yang mengeluhkan perilaku nakal indukan, baik jantan dan betina. Kasus yang paling sering terjadi adalah induk mematuki telurnya hingga pecah, induk tidak mau mengerami telurnya, induk membuang telurnya, bahkan induk membuang piyik / anaknya sendiri.

Solusi:

Penyebab utama induk cucakrawa berperilaku nakal seperti itu adalah karena merasa stres atau tertekan. Kasus seperti ini sering terjadi pada pasangan indukan yang diforsir untuk berproduksi terus-menerus, tanpa pernah diberi waktu istirahat sama sekali.

Untuk mencegah kejadian seperti ini, sebaiknya kalau sudah berproduksi 5-6 kali berturut-turut, pasangan induk cucakrawa diberi kesempatan beristirahat selama 3 minggu. Induk jantan dan betina dipindahkan sementara ke sangkar soliter secara terpisah.

Dengan cara seperti ini, kedua induk bisa refreshing / istirahat sejenak, sehingga bisa mencegah potensi stres yang berujung pada munculnya perilaku nakal tersebut.

Informasi lebih lengkap bisa dibaca pada halaman 2 Serba-serbi Beternak Cucakrawa, khususnya pada poin 2 (Induk cucakrawa jarang diistirahatkan).

4. Piyik selalu mati di sarang pada usia 3-9 hari

Permasalahan:

Beberapa penangkar burung cucakrawa sering mengeluh, mengapa piyik / anakan selalu mati di sarang pada umur 3-9 hari.

Solusi:

Apabila Anda memasang kamera CCTV pada kandang ternak, yang dihubungkan dengan layar / monitor komputer di ruang kerja, maka bisa dilihat kemungkinan penyebab anakan selalu mati di sangkarnya.

Bisa jadi, induk kurang bagus dalam meloloh anaknya. Kemungkinan lain, induk jantan maupun betina sering meninggalkan anaknya.

Induk yang kurang bagus dalam meloloh anaknya cenderung bersifat genetik / bawaan. Artinya, sulit untuk diantisipasi oleh peternak atau perawat yang dipercayainya.

Adapun induk yang sering meninggalkan anaknya di sarang biasanya disebabkan suasana yang dirasa kurang nyaman dan aman. Bisa karena suasana terlalu bising, cucakrawa melihat hewan predator seperti kucing dan anjing, atau melihat tikus, cicak, dan tokek. Semuanya bisa diamati melalui kamera CCTV.

Solusi terbaik dan paling efektif adalah segera memanen anakan cucakrawa lebih dini, misalnya pada umur 2-3 hari, kemudian dirawat dan dibesarkan dalam inkubator.

Solusi ini sangat tepat untuk kasus indukan yang tak pandai meloloh anaknya. Meski demikian, solusi ini juga dapat diterapkan pada kasus indukan yang sering meninggalkan piyik / anakan.

5. Piyik sering mati atau cacat di inkubator

Permasalahan:

Sebagian besar peternak cucakrawa memanen anakan pada umur 5-9 hari, kemudian dipindah ke inkubator untuk dirawat dan diloloh peternak atau perawatnya. Dalam beberapa kasus, piyik sering mati atau setidaknya mengalami cacat saat dirawat di dalam inkubator.

Solusi:

Kasus seperti ini biasanya disebabkan oleh kesalahan dalam mengatur suhu inkubator. Selama masa pengeraman, telur membutuhkan suhu sekitar 36-37 o Celcius, yang semuanya diperoleh dari panas tubuh induknya.

Setelah menetas, piyik cucakrawa selama minggu-minggu awal membutuhkan suhu sekitar 31 o Celcius, atau lebih rendah daripada suhu pengeraman. Suhu inilah yang perlu diterapkan ketika anakan sudah dipanen dan dipindah ke inkubator. Jadi, silakan setel suhu inkubator pada angka 31 o Celcius.

Kalau inkubator buatan sendiri dan bersifat sederhana seperti terbuat dari kardus, atau sangkar soliter yang dikerodong, masukkan termometer ke dalam inkubator sederhana tersebut, lantas pastikan suhunya pada kisaran 31 o Celcius.

Apabila suhu yang tertera pada termometer lebih tinggi atau lebih rendah dari kisaran tersebut, Anda bisa mengaturnya dengan cara mendekatkan atau menjauhkan lampu bohlam. Boleh juga dengan menambah atau mengurangi daya lampu (Watt).

Suhu inkubator yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anakan cucakrawa mengalami lumpuh. Tetapi kalau terlalu rendah, anakan cucakrawa mudah masuk angin dan mati, yang diawali dari bentuk kotorannya yang terlalu cair / encer.

6. Induk macet produksi akibat predator

Permasalahan:

Kasus ini hampir sama seperti keluhan sebelumnya mengenai induk nakal yang sering mematuk telur, ogah mengeram, dan buang piyik / anakan. Hanya saja penyebabnya karena keberadaan predator seperti kucing dan tikus.

Solusi:

Jika kucing dan tikus sering memasuki rumah Anda, meski Anda tak pernah memeliharanya, hal seperti ini harus diwaspadai dan segera diatasi.

Solusi yang efektif adalah mendesain kandang ternak sedemikian rupa, sehingga kucing / tikus tidak mungkin bisa memanjatnya. Caranya, pasang saja plastik sheet di seputar kandang bagian atas (lihat foto bangunan kandang ternak cucakrawa).

7. Induk jantan selalu mematuki telur

Permasalahan:

Sebagian peternak cucakrawa mengeluhkan perilaku induk jantan yang sering mematuki telur yang baru dikeluarkan induk betina.

Solusi:

Induk jantan yang berperilaku seperti itu biasanya bersifat agresif secara bawaan (genetik) atau dikenal sangat temperamen. Apalagi jika telur itu hanya dipatuk induk jantan saja, sementara induk betina tidak pernah berperilaku buruk seperti itu.

Jika kandang ternak dilengkapi kamera CCTV, solusinya menjadi lebih mudah. Dalam hal ini, jika Anda melihat burung betina baru saja bertelur (terpantau lewat kamera CCTV), segera ambil telur tersebut, dan diganti dengan telur puyuh rebus (sudah dimasak).

Adapun telur cucakrawa yang diambil dipindahkan ke mesin penetas dengan suhu konstan 100 o Fahrenheit. Hari berikutnya, induk betina akan mengeluarkan satu telur lagi. Begitu bertelur, maka telur palsu (telur puyuh rebus) diambil, diganti dengan telur asli yang sempat dimasukkan mesin penetas.

Dengan demikian, dua telur yang ada di dalam sarang merupakan telur cucakrawa. Selanjutnya, induk jantan ditangkap dan dipindah ke sangkar soliter. Dengan demikian, induk betina dapat mengerami telur-telurnya tanpa gangguan burung jantan.

Apabila telur sudah menetas, kemudian anakan dipanen pada umur 5-9 hari, induk jantan bisa dimasukkan lagi ke kandang ternak, bertemu dengan betina yang menjadi pasangannya.

Note:

  • Saat menangkap induk jantan, jangan sampai salah tangkap ya? Kalau yang tertangkap burung betina, dia bisa stres dan tidak mau mengerami telurnya.
  • Agar tidak keliru, sebaiknya induk jantan yang sering mematuki telur perlu diberi tanda khusus, misalnya memasang ring tambahan pada kakinya, atau memotong sedikit bulu ekornya.

8. Induk betina mandek bertelur cukup lama

Permasalahan:

Mengapa induk cucakrawa betina berhenti / mandek bertelur dalam waktu yang cukup lama? Apakah induk tersebut bisa bertelur lagi?

Solusi:

Sebagian besar induk betina biasanya bakal mengalami fase seperti ini, sehingga telat bertelur hingga 3-4 bulan lamanya. Banyak faktor penyebabnya, antara lain:

1. Umur induk betina sudah cukup tua

Induk cucaktawa betina yang sudah cukup tua (lebih dari 4 tahun) akan mengalami penurunan produksi telur secara drastis. Hal ini terjadi pada semua spesies unggas, baik ayam, itik, maupun burung.

2. Induk betina mengalami gangguan hormonal

Induk betina mengalami gangguan hormonal, terutama estrogen dan progesteron, sehingga sel telur (ovum) terlambat diproduksi.

3. Kualitas pakan untuk induk kurang bagus

Kualitas pakan yang dikonsumsi burung induk sangat menentukan produktivitasnya dalam menghasilkan telur. Kualitas pakan ini mencakup terpenuhinya batas minimum untuk setiap zat gizi, seperti protein, lemak, serat kasar, karbohidrat, energi metabolisme, hingga beberapa jenis vitamin dan mineral yang esensial.

Untuk mengetahui pakan ideal untuk indukan cucakrawa, silakan lihat artikel Pakan dan extra fooding (EF) untuk indukan cucakrawa.

9. Induk tidak mau meloloh, anakan mencret

Permasalahan:

Tidak sedikit peternak yang mengeluhkan induk cucakrawa yang tidak mau meloloh anaknya. Bagaimana mengatasi hal ini?

Solusi:

Induk yang tidak mau meloloh anaknya bisa disebabkan oleh beberapa faktor, sebagian sudah dijelaskan di bagian terdahulu, seperti induk merasa kurang nyaman, stres, merasa terancam oleh kehadiran hewan predator seperti kucing dan tikus.

Solusi terbaik untuk mengatasi hal ini adalah segera memanen anakan lebih dini, pindahkan ke kandang inkubator. Solusi ini juga bisa diterapkan apabila anakan di dalam sarang terlihat lemas atau mencret (diare), meski induk masih mau melolohnya.

Tetapi ingat, pemanenan hanya boleh dilakukan jika piyik sudah mendapat susu tembolok (crop milk) dari induknya. Pada manusia dan hewan mamalia, susu tembolok bisa diibaratkan sebagai kolostrum.

Susu tembolok berwarna krem, menyerupai susu, yang dikeluarkan dari tembolok induk jantan maupun betina. Susu tembolok inilah yang akan dilolohkan kepada anak merpati sejak menetas hingga umur 10 hari. Cairan ini sangat bergizi, bahkan mengandung zat antibodi.

Jadi, sebelum dipanen lebih dini, pastikan anakan cucakrawa sudah mendapatkan crop milk ini. Kalau Anda memiliki catatan terhadap pasangan induk tertentu yang selalu tidak mau meloloh anaknya, segera pantau kandang ternak via kamera CTTV terutama menjelang telur menetas.

Begitu telur menetas, tunggu beberapa jam sampai induk memberikan susu temboloknya. Hal ini bisa terjadi sekitar 3 jam setelah telur menetas, tetapi bisa juga sampai 6-8 jam.

Jika anakan cucakrawa sudah mendapatkan susu tembolok, Anda boleh memanennya, karena sudah mendapatkan zat antibodi dari cairan tersebut. Selanjutnya, piyik dipindahkan ke dalam inkubator bersama sarangnya.

Usahakan temperatur dalam inkubator konstan, yaitu pada suhu 31-32 o Celsius. Jika tidak ada thermometer, Anda bisa memantaunya berdasarkan posisi piyik di dalam inkubator:

  • Apabila paruhnya selalu menganga, berarti piyik kepanasan. Turunkan suhu inkubator dengan mematikan salah satu lampu pemanasnya.
  • Apabila kepalanya dilipat, berarti piyik kedinginan. Naikkan suhu inkubator dengan menambah lampu pemanas, atau meningkatkan daya (Watt) pada salah satu lampu pemanas.

Ingat, suhu inkubator harus ideal (31-32 o Celsius). Jika terlalu panas bisa menyebabkan lumpuh dan kematian. Kalau kedinginan bisa mengakibatkan diare / mencret dan kematian pula.

Lebih dianjurkan untuk memiliki thermometer. Toh harganya sangat terjangkau, karena sangat penting untuk memeriksa temperatur di dalam inkubator.

Apaun bahan lolohan untuk piyik cucakrawa yang dipanen sangat dini (kurang dari 10 jam sejak menetas) kalau bisa berupa kroto besar (calon raja). Ujung kroto dipotong hingga keluar cairan seperti santan (menggunakan pinset). Setelah itu dicelupkan dalam larutan Vita Chick (vitamin anak ayam, bisa dibeli di poultry shop).

Anda cukup melolohkannya sekali saja, karena organ pencernaan piyik cucakrawa umur segitu belum bisa menerima pakan dalam jumlah banyak. Selang 10 menit kemudian, anakan diloloh lagi.

Sehabis diloloh, anakan cucakrawa biasanya langsung mengeluarkan kotoran (BAB). Saat itulah Anda perlu segera membersihkan kotorannya, karena jika dibiarkan menempel pada kaki, piyik bisa mengalami kelumpuhan.

Bagaimana kalau tidak ada kroto besar? Boleh juga diganti dengan jangkrik kecil / clondo, alias belum tumbuh sayapnya. Itupun yang diambil hanya bagian perutnya, dan sebelumnya sudah dipotong kecil-kecil untuk memudahkan pencernaan anakan cucakrawa.

Bahan lolohan ini terus diberikan sampai anakan cucakrawa berumur 14 hari. Informasi lengkap mengenai cara meloloh bisa dilihat dalam artikel Perawatan anakan cucakrawa pascapanen.